Kisah Bakso Pikul Legendaris di Yogyakarta

Sepuluh tahun lalu Sugino Kamtomiharjo masih kuat memikul bakso dagangannya sambil berkeliling Yogyakarta. Dengan gagah dia memikul beban yang hampir 100 kilogram itu.
Tapi kini pria yang karib disapa Pak Gino itu sudah tak kuat lagi. Usia memaksanya mencari cara lain berjualan bakso.
Akhirnya, bakso pikul itu dipindahkan ke warung Bakso Pikul Tradisional Pak Gino di Jalan AM Sangaji No 55 A Yogyakarta.
Kelilingnya 43 tahun di Jogja. Dulu dipikul. Enak di sini dulu keringat. Sekarang usia 62 dah nggak mampu. Bayangkan 90 kg dipikul capek,” ujar Pak Gino di Yogyakarta, Senin 5 September 2016.
Gino mengatakan, bobot pikulannya yang mencapai 90 kg kala itu berisi peralatan berjualan, seperti ember dan air untuk mencuci mangkuk serta kompor. Waktu badannya masih kuat memikul berat jualannya ia mampu berjalan hingga dua km di Kota Yogyakarta.
“Sejak dulu ya ini pakainya. Pikulnya sudah ganti tiga kali, kalau kayu jati bikin sendiri,” tutur dia.
Dahulu, kata dia, saat masih memikul baksonya, Gino berangkat dari rumah sekitar 16.00 WIB. Dia baru pulang tengah malam, sekitar pukul 00.30 WIB.
“Sekarang jam 11.00. Kalau dulu keliling sampai Jetisharjo, Gondolayu, Jogoyudan,” kata Pak Gino.
Saat ini semangkuk bakso Pak Gino dihargai Rp 8 ribu. Setiap porsinya berisi mi, 7 butir bakso, bakso goreng dan bakso koyor. Dalam sehari dia bisa menjual 200 mangkuk bakso.
Keberadaan bakso pikul di Yogyakarta kini memang mulai menghilang. Kebanyakan pedagang bakso menjajakan dagangannya dengan gerobak dorong ataupun membuka warung.




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Bakso Pikul Legendaris di Yogyakarta"

Posting Komentar