Waktu perempuan udah melepaskan baju indahnya, menghapus make-upnya, dan seluruh bau parfumnya udah tergantikan sama bau dapur, kalian para lelaki, kalau kalian bilang mereka nggak lagi cantik dan menarik bahkan gak puas lagi sama pasangan kalian, mungkin akibatnya yah….
Budi dan Susi sudah menikah 5 tahun dan seperti pasangan suami istri biasanya, mereka udah melewati masa-masa cinta yang menggebu-gebu layaknya pasangan yang masih pacaran. Di mata Budi, hidup ini sangat datar dan nggak menarik.
Kadang dia nggak puas sama Susi, apalagi setiap harinya dia ada di kantor bersama gadis-gadis muda yang cantik membicarakan pakaian model terbaru dan kosmetik ternama, begitu sampai di rumah dia mencium bau dapur yang melekat di tubuh istrinya, dalam hati ia selalu mengeluh, “Kenapa Susi kok nggak perhatiin penampilannya sama sekali sih?”
“Dulu waktu pacaran, Susi selalu berpakaian cantik, kenapa setelah menikah dia malahan jadi gadis rumahan yang gak menarik sama sekali? Kalau kayak gini, dia udah kehilangan kharismanya sebagai cewek.” Kadang inilah keluhan yang keluar dari mulut Budi waktu kumpul sama teman-temannya.
Teman-temannya yang juga udah berumah tangga dan mengalami hal yang sama bakal menjawab, “Cewek itu yah, sebelum nikah bakalan menarik perhatian cowok, ya pasti lah make-up yang cantik. Tapi kalau udah nikah, dia udah ngerasa memiliki lu, udah nggak ada perasaan takut lagi, jadi pasti bakalan males make-up. Jadi cewek itu gak bisa dibiasain, bakalan makin lama makin jelek..” Budi ngangguk-ngangguk dan ngerasa semua ini memang bener, dia makin lama makin nggak suka ngeliat istrinya.
“Mas, udah nggak ada garem, tolong beliin ke warung depan dong, aku udah mau masukin sayur nih..” terdengar suara nyaring dari dalam dapur.
“Gue bukan pembantu, nggak liat gue lagi sibuk?” tanpa memalingkan wajahnya dari layar komputer, Budi menjawab dengan ketusnya.
Susi juga kebingungan, dia mau beli garem dulu dan gak bisa lanjut masak. Sampai waktu makan, Budi langsung marah-marah, “Ini sayur apaan sih sayur hijau kok warnanya kuning semua gini?” sambil mengambil beberapa potong daging untuk dimakan. Waktu itu dia nggak memperhatikan mata Susi yang berkaca-kaca.
Akhir pekan itu, kantor Budi ada acara makan kantor di rumah rekan kerjanya yang bernama Tony, Budi juga diminta mengajak istrinya datang ke sana. Awalnya Budi nggak mau ajak Susi pergi, tapi karena teman kerjanya semua meminta, akhirnya ia juga tidak bisa menolak.
Sebelum pergi, Budi berkata sama Susi, “Kamu mau pake baju ini pergi?” sambil acuh dan tetap pergi gitu aja. Hari itu, berkumpul banyak teman kerjanya sebelum Budi dan Susi datang. Waktu mereka berdua sampai, karena merasa Susi nggak cukup cantik, dia hanya mengenalkan selewat ke teman-temannya dan langsung membawa Susi untuk membantu di dapur.
“Aduh, Ton, Bud kalian beruntung banget sih, punya istri yang pinter masak kayak gini.. Bahagia banget!” kata beberapa temannya begitu sayuran dihidangkan,
“Haha, cuman warnanya aja sedikit kuning, tapi rasanya enak kok!” kata salah satu rekan kerja lainnya.
Muka Budi langsung berubah, “Lu kenapa bodoh banget sih jadi orang, malu-maluin orang aja!” kata Budi langsung pada istrinya yang berdiri di sebelahnya. Susi ngerasa sedih diomongin seperti itu, tapi karena disana banyak orang, dia juga cuman bisa diam aja.
“Aduh ini tuh gara-gara si Toni sih, aku udah masak setengah jadi eh nggak ada garem, kalo Bukan Susi yang bantuin aku beli garem ke minimarket sebrang, kalian mungkin sekarang cuman makan sayur nggak ada rasa.” Kata istri Toni.
“Ya ampun! Semuanya itu salah gue. Kemarin gua bilang mau beli garem, ternyata lupa deh, gara-gara abis cuci piring setelah makan, terus lupa.” Bales Toni.
“Aduh Ton lu memang sayang banget istri yah, masih cuci piring juga?” Kata rekan kerjanya.
“Toni memang terkenal sayang istri tuh, lu nggak liat itu baju istrinya cantik gitu? Itu kan sengaja dibeliin sama Toni waktu terakhir ke luar negri waktu dinas itu lho!” Bales temannya lagi.
Semua orang mengobrol dengan asiknya, nggak ada yang memperhatikan kalau mimik muka Budi udah nggak enak diliat, apalagi Susi udah diem aja sambil makan makanannya.
Keesokan harinya, waktu Budi pulang kantor, ia menemukan di rumah nggak ada orang. Dia kelaparan dan terus menelepon Susi, “Lu kok nggak pulang masak sih? Gua kan gak bisa masak..” Tapi telepon itu langsung ditutup oleh Susi. Budi langsung naik darah, tapi begitu dia menelepon istrinya lagi, ponsel istrinya sudah mati.
Malam itu, Budi pikir dia cuman marah sesaat, tapi malamnya waktu dia terbangun di tidurnya, dia menemukan sampingnya kosong, Susi belum juga pulang. Ia melihat ponsel dan menemukan SMS dari Susi.
“Bud, waktu kamu marah karena sayur yang aku masak jadi kuning, apa kamu pernah pikir kalau dia pernah hijau di dalam wajan? Sayangnya, mereka nggak bisa menunggu waktu yang tepat tapi harus menunggu garam datang. Waktu kamu selalu komentar aku nggak cukup cantik, apa kamu pernah pikir kalau aku juga pernah muda dan cantik? Sayangnya, aku menyerahkan semua kecantikan dan masa mudaku buat pernihakan ini dan nggak bertemu dengan suami yang mencintai aku. Aku tau kamu udah nggak menyukaiku, kalau kamu memang benci, kita mendingan bercerai.”
Budi langsung kaget setengah mati, dia menelepon Susi terus menerus, tapi ponselnya sudah dimatikan.
Pria ini cuman bisa melihat SMS tersebut sambil menangis menyesali semuanya.
Banyak pria yang nggak tahu, sepulang kerja masih harus memasak sayur satu meja itu seberapa susahnya, mereka cuman tau makan dan pilih-pilih.
Banyak pria nggak tahu, gaji seorang istri setelah digunakan untuk sebagian keperluan rumah tinggal sisa berapa untuk membeli baju atau kosmetik, mereka cuman tau istrinya nggak cantik lagi.
Banyak pria nggak tahu, waktu istri sibuk memasak dan mengurus anak, mencuci baju dan melakukan pekerjaan rumah, dia punya berapa banyak waktu untuk merias diri?
Banyak pria nggak tahu, waktu istri kesulitan dan butuh suaminya untuk membantu, mereka cuman bilang kalau mereka sudah lelah karena kerja seharian.
Apa itu pernikahan?
Pernikahan itu dimana kedua orang berjanji untuk saling menopang!
Pernikahan itu dimana suami dan istri menanggung suka dan duka bersama!
Waktu seorang istri memanggil kamu suami, kamu juga perlu menjadi “pembantunya” di saat dia memerlukan bantuan.
Waktu kamu memanggil seseorang sebagai istri, kamu juga perlu mencintainya sampai kalian menua bersama.
Semoga banyak pria yang sadar dan mengerti kalau banyak wanita yang berkorban untuk pernikahan, jangan sampai kamu tidak menghargainya yah!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " "

Posting Komentar